Selasa, 15 Maret 2016

Arti Peribahasa Tak Ada Gading Yang Tak Retak, Apa Artinya?

Arti Peribahasa Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Satu lagi peribahasa yang paling penulis sukai adalah ‘Tak ada gading yang tak retak.’ Mengapa penulis menyukai peribahasa ini? 

Peribahasa ini memberi kita pengingatan bahwa di dunia ini tidak ada kesempurnaan. Kita sebagai manusia harus bersikap legowo dalam menghadapi segala masalah atau menerima kenyataan.

Mengapa harus gading? Karena gading adalah ciptaan tuhan yang diberikan kepada gajah. Ciptaan tuhan saja bisa menjadi tidak sempurna, apalagi ciptaan manusia. 

Peribahasa ini menjadi refleksi bagi berbagai hal, contoh: Ketika kita membeli suatu barang atau produk dengan brand ternama, belum dapat menjamin produk tersebut tidak rusak, karena keterbatasan manusia dalam menciptakannya.

Arti peribahasa tak ada gading yang tak retak adalah setiap manusia/barang pasti memiliki kekurangan atau kelemahannya masing-masing. Betapa indahnya peribahasa ini jika dipalikasikan pada kehidupan sehari-hari. 

Saat kita menghadapai kekecewaan karena sesuatu yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan, maka kita dapat berlapang dada.

Peribahasa yang sejajar maknanya dengan tak ada gading yang tak retak adalah, tak ada jalan yang tidak berlubang. Namun, popularitas penggunaannya tidak sesering peribahasa tak ada gading yang tak retak.

Gading sebagai barang pemberian tuhan paling indah yang dimiliki gajah, bahkan dianggap sebagai mahkota menggantikan tanduk milik rusa. Gajah sangat pas dengan gading yang putih keperakan, seakan mencerminkan kegagahannya yang sepadan dengan posturnya yang besar. 

Jika gajah tidak memiliki gading tersebut, mereka akan kesulitan dalam menjalani kehidupannya. Membuat pertahanan  bagi dirinya ataupun menyerang lawan-lawannya. 

Tapi, apakah gading tersebut akan selamanya berbentuk indah, putih keperakan? Tentu tidak. Pada akhirnya gajah tersebut harus mengikhlaskan diri bahwa gadingnya mulai keropos dan retak atau diburu manusia.

Kita sebagai manusia dapat mengambil pelajaran tersebut. Seandainya kita memiliki barang yang sangat kita sayangi, misalnya: mobil. Mobil tersebut kita cuci setiap hari hingga kinclong mengkilap. 

Kita juga tidak pernah lupa tune up setiap bulan. Kita melakukan hal tersebut karena harga mobil itu mahal dan dibeli dengan hasil jerih payah yang sangat keras. Tapi pada suatu saat kita mengalami kecelakaan yang mengakibatkan mobil tersebut rusak. 

Nah, dengan mengingat peribahasa ‘tak ada gading yang tak retak’ ini, kita dapat memahami bagaimana cara kerja semesta. Semoga dapat membuat kita ikhlas dengan apa yang terjadi dihidup kita.