Selasa, 15 Maret 2016

Apa Kepanjangan RIP?

Kepanjangan RIP

RIP, seringkali diucapkan kepada orang yang meninggal dunia. Kepanjangan RIP adalah Rest in Peace (bahasa Inggris). kepangan RIP sering ditulis di bawah akronimnya, pada batu nisan. 

Dalam bahasa Indonesia artinya adalah beristirahat dengan tenang. Kata ini cocok dikatakan bagi mendiang yang meninggal, karena sesungguhnya kematian adalah beristirahat dengan tenang se-tenang-tenangnya.

Rest in Peace merujuk pada kematian yang terlepas pada kehidupan yang penuh dengan problema. Dengan kematian, secara langsung segala masalah itu hilang dan terlepas dari dunia. Fakta uniknya, kuburan-kuburan sebelum abad ke-8 tidak ditemukan kata RIP di batu nisannya. Penggunaannya baru pada abad ke-18.

Pengucapan RIP sendiri baru populer pada saat Misa Requiem (Bagian dari ritus Tridente Benediktus XVI)  mengungkapkan Misa Tridente (Sebuah nisan yang indah). Ada kontradiksi pada pengucapan kata-kata ini. 

Umat Islam tidak diperbolehkan mengucapkan kata RIP ataupun kepanjangan RIP sekalipun, walaupun itu dalam bahasa Inggris yang netral, bukan merupakan mantra atau ayat suci sebuah kitab keagamaan.

Umat muslim, mengatakan Innalillahi wainnailahi rojiun (Semua milik Alloh SWT dan akan kembali kepadanya), ada perbedaan makna disini. Kepercayaan umat kristen tentang penghapusan dosa setelah kematian dan umat muslim yang menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. 

Menurut Fauzil Adhim, kedudukan RIP sama dengan Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihii wa'fu'anhu ("Ya Allah, ampunilah dia, dan kasihanilah dia dan sejahterakanlah serta ampunilah dosa kesalahan dia.")

Kepercayaan umat muslim dan merujuk kepada perkataan Nabi Muhammad, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka,” (HR. Abu Daud dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Al-Irwa’: 1269). 

Maka, Umat muslim tidak memastikan sang rahimahullah (mendiang) masuk surga ataupun damai di alam akhirat, karena hanya Allah yang tahu.

Makna RIP (beristirahatlah dengan damai) yang berasal dari kepercayaan Nasrani ini, dianggap tidak benar (dirasa kurang pas), karena kita sebagai manusia tidak dapat memastikan sama sekali, apakah kondisi mati itu, adalah ketenangan, kedamaian, kebahagiaan. Namun umat yang mengucapkannya menempatkan kata rest in peace sebagai harapan bahwa yang meninggal mendapatkan kedamaian setelah kematian.