Sabtu, 01 Oktober 2016

Apa Beda Skripsi dan Tesis?

http://4.bp.blogspot.com/-tNj6R0rFfX0/VkMiocq1QMI/AAAAAAAABPo/BYoouysSjjQ/s1600/18-Skripsi-itu-hanya-sekali-kerjakan-dengan-senang-hati.jpg

Bagi anak kuliahan, terutama kamu yang mengambil jejang sarjana, kamu tentu sudah sering mendengar kata skripsi bukan? Hmm, apalagi jika kamu adalah mahasiswa semester akhir. Maka, kata -kata skripsi ini akan sangat sering mendengung -dengung di telinga. Skripsi menjadi tugas akhir yang sangat menentukan bagi kelulusan seorang mahasiswa.

Nah, selain skripsi, kamu mungkin juga pernah mendengar kata tesis. Tesis juga menjadi semacam tugas akhir laksana skripsi. Tapi, tentu saja ada perbedaan skripsi dan tesis ini loh ya.

Lantas, apa sih bedanya skripsi dan tesis ini? Sebagian mahasiswa mungkin sudah paham betul apa beda skripsi dan tesis. Nah, bagi yang belum tahu perbedaannya, kali ini kita akan bahas sekilas tentang perbedaan mendasar dari skripsi dan tesis ini secara sederhana, namun tetap gamblang.


Beda skripsi dan tesis

Skripsi dan tesis itu sama -sama merupakan tugas akhir mahasiswa yang menjadi tolok ukur atau penentu apakah si mahasiswa bisa dinyatakan lulus dan mendapatkan gelar pendidikan sesuai yang sudah ditempuhnya atau tidak.

Tapi nih, bedanya skripsi dan tesis, kalau skripsi adalah tugas akhir bagi para mahasiswa tingkat sarjana atau strata satu. Biasanya, skripsi mulai dikerjakan setelah seorang mahasiswa tiba di semester tujuh, atau saat ia sudah menyelesaikan semua mata kuliah teori yang diwajibkan sesuai beban sks yang ditentukan.

Biasanya sih setelah menyelesaikan mata kuliah dengan beban sks sekitar 130 hingga 140 sks. Berikutnya, mahasiswa bisa membuat proposal skripsi, mengujikan proposal, mengerjakan skripsi tersebut, baru kemudian mempresentasikannya atau mempertahankan hasil penelitian dalam skripsi tersebut di hadapan para penguji. Istilahnya sih, pendadaran.

Setelah menyelesaikan skripsi ini, maka mahasiswa S1 ini berhak mendapatkan gelar sarjana. Yap, yang biasanya gelarnya seperti ini : S.IP., S.Sos., S.H., S.E., S.Pd. dan lainnya.

Nah, berikutnya kita bahas tesis. Kalau tesis ini adalah tugas akhir bagi mahasiswa tingkat master atau S2 alias strata dua. Tesis juga bisa dikerjakan setelah jumlah mata kuliah atau SKS yang ditentukan sudah terpenuhi.

Untuk gelar S2, waktu yang dibutuhkan relatif lebih singkat dengan jumlah sks yang juga lebih sedikit. Jadi, biasanya mata kuliah teori hanya sekitar 12 mata kuliah, dengan jumlah sks antara 30 hingga 40 sks. Jadi, setelah menyelesaikan 30 sampai 40 sks, atau sesuai jumlah yang ditentukan kampus masing -masing, maka ia bisa mulai memproses pengerjaan tesis.

Tesis juga dimulai dengan pengajuan proposal tesis, mengujikan proposal tersebut di hadapan para pembimbing dan penguji, baru kemudian bila disetujui, maka penelitian tesis bisa dilanjutkan. Jika sudah selesai, tiba waktunya pendadaran alias ujian tesis lagi. Setelah dinyatakan lolos tesis, mahasiswa S2 ini pun bisa mendapatkan gelar S2.

Gelar untuk S2 ini, bisa berupa Master, bisa Magister. Contoh gelar S2 ini misalnya : M.A., M.Pd., M.Ag., M.Si., dan lain sebagainya.

Apakah penelitian dalam skripsi dan tesis sama?
Beda skripsi dan tesis lainnya juga mengenai kedalaman pembahasan dalam penelitiannya ya. Jadi, penelitian yang dilakukan di dalam skripsi dan tesis ini juga berbeda.

Jika skripsi, pembahasannya tentu lebih ringan, karena dikerjakan oleh mahasiswa S1. Artinya, pada tataran S1 ini, mahasiswa hanya sekedar bertugas untuk menganalisa suatu teori dengan cara memperbandingkannya atau melihat penerapan atau implementasinya dengan fenomena atau peristiwa yang ada.

Sederhananya, ada teori dan ada peristiwa. Nah, tinggal dilihat, bagaimana peristiwa ini dianalisa menurut teori yang ada. Apakah betul teori tersebut sesuai dengan peristiwa yang ada.

Sedangkan pada tesis, pembahasan yang dilakukan lebih mendalam lagi. Analisa teori yang dilakukan diiringi dengan mengkritisi teori yang ada. Sederhananya, kita perlu menguji apakah teori yang ada tersebut benar dan sudah sesuai atau tidak. Apakah ada kelemahannya, apakah cocok dengan peristiwa atau fenomena yang ada dan lain sebagainya.

Kalau pun teori digunakan untuk mengejawantahkan atau menguraikan suatu fenomena tertentu, maka penguraian dilakukan dengan sangat detail dan mendalam. Yah, namanya juga sudah level Master atau Magister khan?

So, sudah paham bedanya skripsi dan tesis?