Minggu, 07 Mei 2017

Arti Peribahasa Kacang Lupa Kulitnya

Arti Peribahasa Kacang Lupa Kulitnya

Ada begitu banyak peribahasa menarik yang kita kenal. Salah satunya adalah peribahasa Kacang Lupa Kulitnya. Pernah mendengar peribahasa tersebut? Atau kamu malah sedang mencari tahu apa artinya? Kalau begitu, yuk mari kota bahas.

Peribahasa Kacang Lupa Kulitnya
Peribahasa ini berarti seseorang yang lupa dengan asal usulnya, atau dengan jasa-jasa dari orang yang telah memberinya bantuan. Paham? Cara memahaminyabmudah kog.

Pada intinya, peribahasa ini digunakan untuk menyebut seseorang atau pihak yang biasanya sudah sukses dalam mencapai suatu target tertentu. Akan tetapi, ketika dia sudah mencapai sukses, ia lupa bahwa dulunya ia pernah menjadi orang yang 'tidak/ beluk sukses', dan untik mencapai kesuksesannya tersebut, ada orang lain yang menolongnya. Tapi, ia tidak menganggap bantuan orang lain tersebut, juga tidak menganggap bahwa dirinya pun pernah berada di posisi bawah (sebelum sukses).

Sebagai contoh, Didi dulunya adalah anak seorang petani di sebuah desa pelosok. Orang tuanya tidak ingin Didi juga menjadi seorang petani. Mereka ingin Didi sukses dengan cita-cita Didi, yakni menjadi dokter, sehingga nantinya Didi bisa menolong masyarakat di desa tempatnya tinggal tersebut.

Orang tua Didi pun mengirim Didi untuk belajar di kota besar demi mengejar mimpi tersebut. Susah payah orang tuanya mengumpulkan uang demi pendidikan Disi hingga akhirnya Didi sukses menjadi dokter. Akan tetapi, apakah Didi lantas pulang ke desanya seperti keinginannya dulu?

Rupanya, Disi terlanjur senang dengan kehidupan kota metropolitan. Ia enggan pulang ke desanya. Malahan, ia mengklaim bahwa kesuksesannya adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Jadi, kehidupan desa, pertanian, atau pun orang tuanya, bukanlah yang menentukan keberhasilannya.

Nah, sikap Didi ini loh yang dinamakan kacang lupankulitnya. Ia lupa akan asal usulnya sendiri, bahkan lupa pula dengan kerja keras orang tuanya untuk membiayai pendidikannya.

Seperti kacang yang lupa kulitnya. Sebab, ketika belum menjadi kacang yang siap santap, lezat dan banyak dicari orang, kacang selalu terbungkus oleh kulit. Kulit kacang ini senantiasa setia menyelubungi isi kacang dan melindunginya dari berbagai hal. 

Jadi, sebetulnya jasa kulit kacang amatlah besar. Tapi, setelah kacang dewasa dan jadi berharga, kulit kacang ini dibuang begitu saja. Tak ada nilainya, tak ada harganya. Seolah, semua jasa-jasanya tak dianggap. Yap, begitulah kira -kira arti peribahasa Kacang Lupa Kulitnya. Semoga bermanfaat.